Ayah mampu menepis air matanya karena Allah memberikan bahu yang kuat untuk menopang kesedihan,terkadang dalam bersedih ,ayah lebih banyak memilih untuk berdiam karena dia memang tak pandai untuk menangis.
Mungkin saat menikah kita merasa sudah cukup dewasa untuk memulai kehidupan kita sendiri dan memisahkan diri dari orangtua. Para orangtua, terutama Ayah, tentunya sudah tahu dari jauh-jauh hari kalau mereka akan berpisah dengan anaknya.

Tapi pada saat hari pernikahan tiba, Ayah ternyata tidak pernah sesiap itu. Ada hal-hal yang baru ia sadari saat menyerahkanmu pada lelaki lain di dunia ini. Salah satunya, Ayah merasa belum memiliki banyak waktu berdua untuk dihabiskan bersama putrinya. Namun kini tiba-tiba putrinya sudah harus pergi setelah pernikahan digelar. Semua terasa seperti mimpi. Kadang Ayah berharap waktu dapat diputar kembali.